HEADLINE NEWS

Kategori

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Diberdayakan oleh Blogger.

Facebook

Nasional

Kesehatan

KRIMINAL

3/INFO%20KRIMINAL/post-grid

NASIONAL

4/INFO%20NASIONAL/small-col-right

POLITIK & HUKUM

1/INFO%20POLITIK%20%26%20HUKUM/big-col-left

Pendidikan

Olahraga

Kriminal

Header Ads

Comments

Comments

DAERAH

3/INFO%20DAERAH/big-col-right

Pages

EKONOMI

3/INFO%20EKONOMI/big-col-left

BERITA POPULER

Krisis Turki Seret Rupiah Dan IHSG Anjlok, Sri Mulyani Waspada

Cendana net news.- Melemahnya lira, mata uang Turki diakui Menteri Keuangan Sri Mulyani tidak hanya berdampak ke persoalan finansial saja. Sri Mulyani mengungkapkan bahwa krisis yang dihadapi Turki tersebut juga harus diwaspadai Indonesia.
"Indonesia sebagai negara G20, akan berpengaruh kepada keseluruhan global economy karena size-nya walaupun di bawah USD1 triliun, namun dia posisi strategisnya sangat besar di sana jadi kita harus tetap waspada," ujar Sri Mulyani. Tangera Menurut Sri Mulyani, adanya permasalahan di Turki bukan hanya sekadar konflik ekonomi. "Kita akan terus memantau secara hati-hati perkembangannya. Situasi Turki sangat spesifik tidak hanya masalah finansial, masalah ekonomi, tapi juga ada masalah security dan politik di tingkat global, jadi kita akan lihat dinamika dari apa yang berkembang di Turki," tuturnya.
Sri mengatakan, pihaknya akan terus berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI). Dia juga mengungkapkan bahwa kondisi Indonesia dan Turki sangat berbeda.
"Indonesia memiliki hal positif yang dilihat selama ini, goals kita kuat, inflasi kita rendah defisit APBN diperkirakan lebih rendah. Itu semuanya berbeda sekali dengan situasi yang ada Turki, jadi kita ingin membedakan narasinya, Indonesia dengan negara-negara yang selama ini, memiliki kelemahan dan kerapuhan lebih tinggi," tukasnya.
Sebagai informasi, pada Jumat lalu, nilai tukar lira mengalami kejatuhan harian terburuk sejak 2001, yakni mencapai 18%. Diketahui, hal itu, dipicu oleh kekhawatiran pelaku pasar yang diperkirakan berpengaruh ke kebijakan ke sektor ekonomi, yang meminta untuk menahan suku bunga rendah di tengah inflasi yang tinggi serta memburuknya hubungan AS-Turki.
Nilai tukar Rupiah mendadak anjlok cukup dalam pada perdagangan awal pekan ini berada di kisaran Rp14.600 per dolar Amerika Serikat.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, tidak terlepas dari krisis ekonomi yang terjadi di Turki. Seperti diketahui, saat ini krisis keuangan terjadi di Turki akibat mata uang Turki Lira yang jatuh terhadap dolar AS hingga 18%.
Bahkan menurut Darmin, dampak dari perang dagang ini bukan hanya berdampak kepada Indonesia saja. Akan tetapi negara-negara lain pun sama akan terkena dampaknya.
"Sebenarnya bukan hanya Rupiah. Kepada semua emerging market itu apa namanya, sebenarnya euforia saja menurut saya mestinya enggak," ujarnya saat ditemui di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin (13/8/2018).
Meskipun begitu lanjut Darmin, market seharusnya tidak perlu menanggapinya secara berlebihan. Sebab pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sendiri hanya bersifat sementara.
Menurut Darmin, banyak sekali pendapat orang yang justru melebih-lebihkan krisis ekonomi yang terjadi di Turki. Sebab menurutnya, krisis yang terjadi di suatu negara tidak selalu harus berimbas kepada negara lainnya.
"Sebenarnya itu sih terlalu berlebihan itu, Turki itu memang ada hal-hal yang khusus di sana sehingga dia kena dampak yang enggak mesti berlaku kepada negara-negara lain," ujarnya.
Justru menurutnya, yang akhirnya membuat Rupiah melemah adalah anggapan-anggapan orang di luar terkait krisis di Turki itu sendiri. Karena anggapan itulah akhirnya Rupiah mengalami gejolak yang akhirnya bisa tembus hingga Rp14.600 per USD.
"Masalahnya adalah setelah dia kena kemudian orang mulai bilang 'oh ini imbasnya besar macam-macam'," ucapnya.(red) 

Previous
« Prev Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *