HEADLINE NEWS

Kategori

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Diberdayakan oleh Blogger.

Facebook

Nasional

Kesehatan

KRIMINAL

3/INFO%20KRIMINAL/post-grid

NASIONAL

4/INFO%20NASIONAL/small-col-right

POLITIK & HUKUM

1/INFO%20POLITIK%20%26%20HUKUM/big-col-left

Pendidikan

Olahraga

Kriminal

Header Ads

Comments

Comments

DAERAH

3/INFO%20DAERAH/big-col-right

Pages

EKONOMI

3/INFO%20EKONOMI/big-col-left

BERITA POPULER

Amanat Kapolri Untuk Pemilu Pilpres dan Pileg 2019 Aman Damai dan Sejuk


Cendananet news.-Saya melihat, ini yang luar biasa dari bangsa ini. Ada ratusan suku bangsa, ras, tenis, agama, bahasa, bahkan lebih dari 700 dialek bahasa. Ada orang Sunda, Jawa, Maluku, Sulawesi, Papua dan lain sebagainya. Saya sudah muter lebih dari 80 negara, baik dalam rangka tugas maupun sekolah. Tidak banyak negara yang memiliki keberagaman seperti Indonesia
Afghanistan, hanya memiliki 7 suka bangsa saja, 90% penduduknya adalah muslim. Tapi apa yang terjadi ? Konflik, perang masih terus terjadi sampai hari ini. Sedih kita sebagai muslim. Yang perang muslim sama muslim. Kemudian Syiria, Irak dan negara Timur Tengah lainnya, sedih kita. Mereka tidak banyak suku bangsa, tidak banyak ras, dan sebagian besar, bahkan 90% penduduknya muslim. Yang perang, berantem, bunuh-bunuhan muslim sama muslim. Sedih lagi kita.
Oleh karena itu, kita harus mensyukuri bahwa banga Indonesia, 260 juta dari Sabang sampai Merauke, dari ratusan suku dan etnis, semuanya bisa menyatu. Di sini misalnya, ada yang orang Padang, ada dari Jawa Tengah, Jawa Timur, ada yang Sunda, dan mungkin paling banyak dari suku Betawi.
Makanan gado-gado bukan lagi milik orang Betawi, sudah diakui sebagai makanan nasional. Saya di Papua sana, gado-gado juga mereka makan, dianggap itu makanan orang Indonesia. Seperti itulah kira-kira. Rendang itu juga bukan lagi diklaim makanannya orang Padang, saya orang Palembang juga tidak bisa mengklaim empek-empek sebagai makanan daerah saya, waktu saya di Makassar banyak yang jualan empek-empak, bahkan yang jualan orang Sualwesi. Nah inilah yang harus kita syukuri. Meski ada yang kurang disana sini.
Nah, masyarakat mungkin ada yang sudah punya mobil, punya rumah, ada juga yang belum beruntung. Tapi yang perlu kita syukuri, bangsa yang beragam ini, kita tidak berperang diantara kita. Tidak ribut, konflik dan bunuh-bunuhan tidak seperti di Timur Tengah, Afghanistan dan lain-lainnya. Inilah yang harus selalu disyukuri oleh kita semua.
Allah SWT dalam Al Qur’an surah Ar Rahman, berulang kali, bahkan lebih dari 30 kali menyatakan, “Fabiayyi aalaai rabbikumaa tukadzibaan”. Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kalian pungkiri / dustakan?.
Itulah nikmat yang paling besar dari bangsa ini, bahwa kita tidak berkonflik. Lihat di luar sana, sukunya macam-macam, etnisnya macam-macam. Jangnlah kita berpecah karena perbedaan-perbedaan. Kita berbeda suku, suku berbeda ras, kita berbeda agama, dan banyak perbedaan lainnya. Perbedaan-perbedaan ini hendaknya membuat bangsa kita jadi kaya.
Tadi misalnya, orang Jawa, rawon itu tidak bisa diklaim sebagai makanannya orang Jawa Timur saja, karena orang Jakarta sudah menganggapnya sebagai makanan orang Indonesia. Perbedaan seperti ini menjadikan kita kaya sebagai bangsa, bukan sebagai pemecah. (spi/cnn/red)

Previous
« Prev Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *