HEADLINE NEWS

Kategori

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Diberdayakan oleh Blogger.

Facebook

Nasional

Kesehatan

KRIMINAL

3/INFO%20KRIMINAL/post-grid

NASIONAL

4/INFO%20NASIONAL/small-col-right

POLITIK & HUKUM

1/INFO%20POLITIK%20%26%20HUKUM/big-col-left

Pendidikan

Olahraga

Kriminal

Header Ads

Comments

Comments

DAERAH

3/INFO%20DAERAH/big-col-right

Pages

EKONOMI

3/INFO%20EKONOMI/big-col-left

BERITA POPULER

IPW Bicara Isu Polisi India vs Polisi Taliban di KPK

Cendananet News-Ketua Presidium indonesia police watch (IPW) Neta S pane bicara soal isu perseteruan antara polisi Taliban dengan polisi India di internal komisi pemberantasan korupsi (KPK). Neta menekankan bahwa ketegasan para pimpinan KPK diperlukan untuk menjaga soliditas KPK.

"Sekarang berkembang isu di internal. (KPK). Katanya ada polisi India dan ada polisi Taliban. Ini kan berbahaya. 

Taliban siapa? Kubu Novel (penyidik senior KPK, Novel Baswedan). Polisi India siapa? Kubu non-Novel. Perlu ada ketegasan komisioner untuk menata dan menjaga soliditas institusi ini," kata Neta dalam diskusi bertema 'Bersih-bersih Jokowi: Menyoroti Institusi Antikorupsi' di Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, Minggu (5/5/2019).

Neta menyayangkan konflik terjadi di internal KPK. Ia menilai konflik tersebut terjadi karena ketidaktegasan para pimpinan KPK.


"Sejauh ini para komisioner tidak tegas dan cenderung berpihak. Novel kan baru, harusnya mereka bersinergi menjaga soliditas. Jangan karena perkara Novel tidak terungkap, lalu menjadi alasan mereka sangsi terhadap institusi Polri. Novel sendiri kan anggota Polri dulunya," papar Neta.

Neta bahkan menuding KPK juga bermain politik. Dia menyebut KPK seolah 'menargetkan' orang-orang yang ada di kubu pasangan capres-cawapres nomor urut 01.

"Sejak Desember sampai bulan ini, sebagian besar target OTT KPK pendukung 01. Alasannya apa? Ya mereka yang tahu," sebut Neta.

"Tapi analisa kami, mereka ini kayanya bermain politik saat masyarakat terpecah antara 01 dan 02. Kemudian mereka ikut-ikutan terbelah. Sebenarnya mereka harusnya independen, tetap pada kerja profesional mereka," imbuhnya.

Neta menegaskan bahwa KPK tidak boleh berpihak. Dia meyakini di pemilu dan pilpres tahun ini banyak 'uang' yang mengalir.


"Ketika ada info, siapapun harus di OTT. Jangan hanya kubu tertentu. Ini jadi pertanyaan kita, apakah hanya satu kubu yang pendukungnya melakukan korupsi? Di pileg dan pilpres, kita tahu uang mengalir dari mana-mana ke mana," jelasnya.

Neta meminta kepada lima pimpinan KPK untuk segera menyelesaikan konflik di internal mereka. Sebab, menurutnya, perpecahan di tubuh KPK menjadi keuntungan bagi para koruptor.

"Tantangan KPK yang harus diselesaikan internal adalah mereka harus profesional, independen dan proporsional. 

Ketegasan daripada komisioner, jangan sampai ada penyidik atau anggota KPK bermain politik. Jangan sampai KPK dijadikan alat balas dendam kelompok politik tertentu untuk membalas lawan-lawan politik mereka dan melindungi kawan-kawan politiknya," tegas Neta.(ndc/cnn)

Previous
« Prev Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *