HEADLINE NEWS

Kategori

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Diberdayakan oleh Blogger.

Facebook

Nasional

Kesehatan

KRIMINAL

3/INFO%20KRIMINAL/post-grid

NASIONAL

4/INFO%20NASIONAL/small-col-right

POLITIK & HUKUM

1/INFO%20POLITIK%20%26%20HUKUM/big-col-left

Pendidikan

Olahraga

Kriminal

Header Ads

Comments

Comments

DAERAH

3/INFO%20DAERAH/big-col-right

Pages

EKONOMI

3/INFO%20EKONOMI/big-col-left

BERITA POPULER

Korban Kekerasan MOS di SMA Taruna Palembang Bertambah Satu Lagi

Cendananet News-Polresta Palembang tidak sesumbar ketika ada kemungkinan korban kekerasan baru yang lain di SMA Taruna Indonesia. Kini, muncul laporan ada lagi korban kekerasan kedua akibat praktik perpeloncoan saat dilakukan Masa Orientasi Sekolah (MOS). 
Korban diketahui bernama WK (14) dan mengalami usus terlilit usai mengikuti masa pelatihan fisik dan mental selama seminggu di sekolah tersebut.

Informasi itu diketahui, setelah orang tua dari WK melapor ke Polresta Palembang.  Lalu, apa langkah polisi selanjutnya? Ayah WK, Suwito (44) mengisahkan ia dikabari oleh pihak SMA Taruna Indonesia bahwa putra kesayangannya itu dilarikan ke rumah sakit pada Sabtu (13/7) sekitar pukul 14:00 WIB. 

"Saya baru dapat kabar (Sabtu) siang dan langsung ke rumah sakit. Sesaat sampai di rumah sakit, anak saya lihat sudah tak sadarkan diri," kata Suwito, saat melapor ke Polresta Palembang pada Senin (15/7).
Menurut Suwito, setelah mereka tiba di rumah sakit, tim medis langsung meminta persetujuan kepada keluarga untuk mengambil tindakan berupa operasi kepada WK. 
"Karena usus anak saya terlilit dan harus segera dilakukan tindakan. Sekitar pukul 21:00 WIB dilakukan operasi, karena perut anak saya sakit," tuturnya lagi.
Kepada Suwito, korban WK menceritakan, bahwa mereka disiksa oleh panitia ospek dengan cara ditendang dan dipukul di beberapa bagian termasuk perut. 

"Kata anak saya mereka terus disiksa saat ospek. Dia (WK) mengaku ditendang lalu ditonjok di bagian perut berkali-kali oleh pembinanya," kata Suwito. 
Suwito mengungkapkan usai dioperasi anaknya sempat mengigau memanggil nama temannya (korban DLW) yang menjadi korban meninggal dalam ospek hari terakhir di SMA Taruna Indonesia Palembang.
"Sebelum operasi dan usai operasi anak saya mengigau terus, mengatakan, mati tidak kawan aku yang dipukuli," kata Suwito menirukan ucapan putranya itu.

Kepada Suwito, korban WK menceritakan, bahwa mereka disiksa oleh panitia ospek dengan cara ditendang dan dipukul di beberapa bagian termasuk perut. 
"Kata anak saya mereka terus disiksa saat ospek. Dia (WK) mengaku ditendang lalu ditonjok di bagian perut berkali-kali oleh pembinanya," kata Suwito. 
Suwito mengungkapkan usai dioperasi anaknya sempat mengigau memanggil nama temannya (korban DLW) yang menjadi korban meninggal dalam ospek hari terakhir di SMA Taruna Indonesia Palembang.
"Sebelum operasi dan usai operasi anak saya mengigau terus, mengatakan, mati tidak kawan aku yang dipukuli," kata Suwito menirukan ucapan putranya itu.
Tak terima anaknya diperlakukan dengan cara kekerasan, Suwito didampingi kuasa hukumnya, Firli Darta kemudian melapor ke Polresta Palembang. 
Ia tak terima putranya itu disiksa selama MOS hingga harus dioperasi di rumah sakit. Laporan langsung disampaikan ke bagian Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA), Polresta Palembang. 
"Kami ke sini hendak melaporkan kejadian hal yang sama dialami DLW. Nah, ini anak saya menjadi korban penganiayaan juga, saat waktu bersamaan. 
Saya berharap kepada pihak Polresta Palembang, usut tuntas kasus ini, Pak," kata Suwito.
Kasat Reskrim Polresta Palembang, Kompol Yon Edi Winara, membenarkan ada laporan lanjutan dari korban baru dari masa pelatihan fisik dan mental di SMA Taruna Indonesia Palembang. Saat ini, pihaknya tengah mendalami laporan tersebut.
"Keluarga korban WK (korban kedua), siswa Taruna Indonesia tadi siang juga mendatangi pengaduan Polresta Palembang. Laporan sudah kami terima secara lisan dan akan kami tindak lanjuti," ujar dia pada Senin (15/7).
Selama proses masa pembinaan fisik dan mental SMA Taruna Indonesia Palembang, pihak panitia dan pembina sempat bermalam empat hari di kawasan Kelurahan Talang Jambe, Kecamatan Sukarami, Palembang. 

Mereka ditempa secara fisik dan mental di barak yang didirikan oleh pihak sekolah. Hal itu dibenarkan penjaga di area tersebut, M Ali Akbar. 
"Iya mereka selama empat hari (bermalam di sini) dan mereka menyewa tempat. Tapi untuk kegiatannya saya tidak tahu mereka melakukan apa saja. Mereka melakukan kegiatan ini setiap tahun," tutur Ali ketika ditanya media.(idn/cnn)

Previous
« Prev Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *